Aku ingat, di sore yang cerah itu kau berjalan di tepi pantai dengan bertelanjang kaki. Membiarkan air laut menjilati kaki putihmu. Saat itu, rambutmu tergerai dan tertiup angin. Aku menatap dalam wajahmu yang memantulkan cahaya jingga dari langit. Ada banyak cerita yang masih kau sembunyikan di sana, yang entah kapan akan kau percayakan padaku. Rebahlah, sandarlah, aku bukan pria selemah itu.
Ah, tapi semua hanya kubatin. Karena pintaku yang ribuan kali selalu berujung pada penolakan.
     Aku sibuk dalam diamku memperhatikanmu, kau sibuk dalam diammu berkelana dalam dunia imajimu. Aku masih ingat, saat melintasi anak kecil yang mencari kerang aku bertanya "menurutku semua pantai itu sama, bagaimana denganmu ?" aku tahu pasti kau tidak setuju. Kau diam dan menghentikan langkahmu kemudian menatapku. "Begitukah ?, Kau sering menemaniku berburu pantai. Bagiku setiap pantai itu berbeda. Airnya, debur ombaknya, udaranya dan rasanya." Sanggahmu. "Baiklah, lalu apa yang kau cari dari pengembaraanmu ?" Tanyaku. Kau diam lagi dan melanjutkan perjalananmu.
     Pantai ini aku akui berbeda dari pantai - pantai yang pernah kita kunjungi. Tempatnya tersembunyi oleh ladang masyarakat sekitar. Aksesnya juga tidak mudah. Tapi pantai ini indah dengan debur ombaknya yang keras. Karang - karang yang melindungi dari kanan dan kiri. Pasirnya yang lembut dan kuning. Dan ada hal lain yang membuatku betah di sini. Itu kamu. Wanita samudraku.
    Yah, itulah sore bertahun - tahun lalu. Kini aku duduk di tepi pantai ini. Menerawang jauh ke batas cakrawala. Sesekali menjatuhkan pandangan padamu. Duduk disampingmu adalah vakansi yang dibutuhkan hatiku. Meskipun, kau tetap pada pendirianmu untuk tidak rebah padaku. Kau memilih rebah pada yang lebih kuat. Kau memilih rebah pada-Nya dan meninggalkanku dengan ribuan misteri serta sepucuk surat terimakasih dan permintaan untuk disemayamkan di pantai ini. Aku menghormati pilihanmu, seperti dulu - dulu. Mustahil untukku menolakmu, kau memilih tenang di tempat yang sepi dan indah. Selamat jalan kekasih, semoga duniamu tidak riuh lagi.
 

    Percakapan itu berlalu begitu saja. Dari diri yang malu malu kemudian bercerita tanpa jeda. Entah, karena kalut atau kamu, sosok misterius yang aku temui kala itu. Ditemani secangkir kopi dan segelas teh hangat, cerita itu terkisah begitu saja. Mungkin karena udara yang dingin.
     Berawal dari kursi yang kosong hanya disebelahmu. Dengan kenekatan aku bertanya tak adakah orang disebelahmu dan dengan santai kau mempersilahkan untuk duduk saja di hadapanmu. Setelah menit - menit hening diantara kita kau bertanya apakah aku sedang sendirian. Ku iyakan pertanyaan itu, dan percakapan itu mengalir begitu saja. Semakin hangat, seiring dinginnya teh dan kopi kita. Kita. Sudah pantaskah aku menyebut kita hanya karena percakapan hangat di sebuah kedai mie yang ramai itu.
    Kau bercerita banyak hal. Tentang kesendirianmu, tentang perjalananmu, tentang yang ku kira sudah banyak hal. Akupun bercerita tidak kalah banyak darimu. Tak terasa, mie goreng pesananmu dan mi kuah pesananku sudah tiba di meja yang basah karena air hujan tadi sore.
    Kita terlalu asik tenggelam dalam cerita. Hingga lupa masih banyak yang antri. Bersamamu waktu terasa singkat. Kita baru bertemu, salahkah aku ingin menjumpaimu lagi. Aku tersesat dalam duniamu. Dunia yang asing, namun terasa indah. Hingga aku sesat dan lupa dunia yang aku tinggalkan tadi. Kau bercerita tentang langit malam yang bertabur bintang dan tengah hutan yang lengang. Dunia yang selintas seperti imaji bagiku.
    Tiba - tiba ponselmu berdering, mengagetkan kita. Untuk sementara bolehkah aku gunakan kata kita. Kau berbicara sebentar dan terburu pergi. Kau hanya berpamitan sekilas sambil mengemasi korekmu. Aku, belum sempat mengucapkan salam perpisahan itu. Sudah harus melihat punggungmu.
    Begitulah salam perpisahanmu. Meninggalkan aku dengan segelas teh yang dingin. Maaf, memang aku siapa ? hanya seseorang yang tak sengaja kau jumpai dan kita sama - sama berbagi kisah yang panjang dengan waktu yang singkat. Ahh, malam semakin dingin. Kurekatkan jaket dan beranjak dari situ.
    Bagaimanapun aku tetap harus berterimakasih telah kau ajak hilang ke duniamu. Tapi bolehkah kau ijinkan aku untuk tetap di sana. Sayang, kita hanya sebatas cerita tanpa kisah. Iya, sampai berjumpa lagi, aku hanya berharap bisa bertemu lagi untuk menyampaikan rasa terima kasihku.

Musim hujan
Batu, 12 Februari 2019
   

     Untuk kesekian kali, ada kegelisahan yang menyusup di setiap debar. Aku rindu hembus angin yang menerpa muka. Aku rindu suara gemuruh debur yang memenuhi telinga. Selalu saja ada kerinduan untuk membiarkan air ombak menerpa jari - jari kaki. Ahhh, aku rindu pantai. Tulisan ini didedikasikan untuk diri yang merindu deburan ombak dan birunya laut.
     Setiap orang pasti mempunyai pilihan untuk liburannya mau ke alam atau destinasi buatan. Bahkan ada yang lebih memilih bersantai dengan segelas teh, buku keluaran terbaru dan setangkup roti. Ada yang memilih tantangan dan menyatu dengan pegunungan. Tidak sedikit yang memilih taman bermain yang memicu adrenalin. Berbagai pilihan untuk melepas penat. Kalau kaian jadi tim apanih ?
     Kalo aku sendiri sejujurnya lebih senang dengan liburan yang bertemakan keheningan. Menikmati teh di hari minggu atau berjalan - jalan di pantai (Tentunya, kalo pantai yang sepi). Sedihnya sudah berbulan - bulan tidak menyentuh pantai. Indonesia adalah negara kepulauan dengan bentang pantai yang panjang. Siapa sih yang ga tau pantai di Indonesia itu cantik - cantik orang manca aja tau. Sebenarnya aku tinggal di tempat yang tidak jauh dari pantai. Tapi entahlah kapan bisa kesana lagi.
     Berawal dari keyakina setiap perkataan adalah do'a, lewat tulisan kali ini aku berharap segera ada kesempatan lagi ke pantai. Jadi sedikit curhat lah ya. Jujur aja, in my honest opinion mantai itu asik banget. Coba deh kalian rasakan bener - bener, bagaimana kecilnya kita sebagai manusia. Bagaimana Tuhan dengan kesempurnaannya menciptakan segala sesuatu. Sayang sekali kalo kita diberi nikmat melihat tapi hanya liat tugas mulu. Tapi, liat si dia juga gapapa demi pelepas lelah *eh. Hehehe.

   
    Siapa disini kubu pecinta Indomie ?
    Kalian penganut paham Indomie goreng atau Indomie kuah ?
    Kuah ataupun goreng tidak pernah salah karena selera itu subyektif. Jangan karena perbedaan paham Indomie kalian jadi bertengkar. Selama Indomie kita tetap satuuuu. Hidup Indomie ! eh.
Bukan rahasia lagi kalo banyak pecinta Indomie di negara ini. Apalagi kalo dimakan waktu hujan dengan telor dan sayurnyaa, ahhh nikmat manalagi yang engkau dustakan. Sayangnya makan Indomie itu tidak pernah seimbang kita masak setengah jam habisnya 15 menit. Tapi itu bukan apa apa. Bagaimana jika demi menikmati Indomie harus menunggu selama 2 JAM ??? mampus kau dikoyak - koyak waktu.

   Kalian mungkin sebagian besar ga akan percaya kalo ada sebuah tempat demi makan Indomie harus menunggu 2 Jam bahkan lebih. Kalian harus coba ke tempat ini. Namanya Mie Soden Lokasinya di Batu. Kalo kalian sedang berlibur ke Malang atau Batu sempatkan makan Indomie di sini. Kenapa ? Karena kalian akan merasakan sensasi berbeda dari sebuah Indomie. Tempat sedikit nyempil dan sederhana bangeeet. Tapi antrinya, beuhh menunggu 2 jam itu hal yang wajar. Biar kalian ga nyasar aku kasih directionnya yah, kita mulai dari alun - alun batu ajaya (kalo dari rumah kalian kelamaan). Oke, start point Alun - Alun Batu, di deket Alun - Alun Batu ada Masjid besar sebrang jalan catnya masih ijo, dari situ kalian lurus sampai lampu merah pertama, kemudian belok kiri lurus terus ikuti jalan sampai kalian ketemu ada plakat hotel selecta di kiri jalan. Yauda kalian belok kanan kira - kira 3 - 4 kilometer dari Alun - Alun. Kalian ikuti jalan terus, belok kiri dikit ada portal masuk wisata selecta ga jauh dari situ akan ada bapak parkir dan kendaraan parkir yang banyak. Sudah sampai. Tinggal jalan dikit kiri jalan, tempatnya sedikit turun. Nah, disitu nanti akan berjubel - jubel manusia.
    Kalian jangan berharap ketemu dengan depot mewah ya. Disini cukup warung sederhana. Tapi jangan liat luarnya ya. Don't Judge Book By It's Cover. Karena kalau kalian malam dikit datengnya, harus sabar menunggu hingga 2 jamm. Mie Soden ini mungkin sudah ga asing di telinga orang Malang dan sekitarnya. Mie Soden buka mulai jam 18.00 sampe tutup. Waktu aku kesini sampai sekitar pukul 19.00 an dan kita dapat nomor antrian 20. Sebenernya tuh kita nunggu harusnya lebih dari 2 jam tapi karena muka melas aku, eh bukan sih karena faktor keberuntungan atau mungkin kelompok kita itu paling rame jadi diduluin hehehe.
    Jujur aja ya, pertama kali kesini aku bertanya - tanya kok bisa sih lama banget padahal waktu ngintip dapurnya masaknya itu langsung porsi besar di wajan yang besar. Kalian kalo kesini intip aja cara masak chefnya. Jangan makan doang. Chefnya disini cuma satu. Weeh dengan pelanggan sebanyak itu, kereen. Tapi kita nunggu sampe membeku.
   Kalo kalian makan disini, pasti akan merasakan sensasi yang luar biasa. Jangan lupa bawa jaket ya, Batu dingin. Kalian juga pilih meja yang outdoor sambil melihat warna - warni lampu Kota Batu. Tenang banget, dengan suara percakapan orang - orang yang menunggu dan keheningan malam. Di sini ga cuma jualan mie kok, kalo kalian bosen nunggu selama 2 jam kalian bisa nyemil makanan ringan yang dijual disini.
   Soal harga kalian jangan khawatir, murmer laah. Padahal antriannya kek gitu. Harga Mienya cukup 5000 rupiah aja. Segelas teh hangat 2000 rupiah. Untuk susu dan kopi susu 3000an. Muraah kan. Setelah makan, jangan berlama - lama ya kasian yang antri banyak. Jadi, kalian wajib dan kudu dateng kesini. Buktikan kesabaran kalian demi sepiring Indomie.

Tahu isi yang kita pesan

Ini chefnya lagi masak



Lampu - Lampu Kota batu



Mie pesenan kita



Penuh dong kursinya


Selamat Makan !!!

 
wohooooo, kejam gak tuhhh !
Jadi kronologinya gini.
Pagi hari tanggal 31 Januari 2019 jam 10.00 WIBB (Waktu Indonesia Bagian Batu) banyak orang berkerumun di depan entrance. Penasaran kan ya ada apaan. Ternyata ada drama teatrikal yang depersembahkan oleh Jawa Timur Park 2 untuk menyambut Hari Primata Nasional.

Drama teatrikal ini menceritakan tentang 2 primata yang hidup bahagia di alamnya (bukan alam ghoib lo) diiringi musik yang riang. Tiba - tiba musik menjadi lebih kencang dan mendebarkan. Dari sela - sela pengunjung yang rapat kek pager daun, muncul mengendap - endap pemburu jahat yang menagkap salah satu primata tersebut. Mereka dengan alat perburuannya yang ganas - ganas itu membawa primata menjauh. Yaaaah, primata yang satunya jadi sedih dong. Lagu juga berubah menjadi lebih sedih, aku juga ikut sedih pengen nangis rasanya (lebay tapi fakta). Primata yang sendirian itu pasti kesepian dan merasa sedih lalu pergi entah kemana. Kemudian  panggung berubah menjadi pemukiman warga yang tenang dan bahagia. Anak - anak sedang asik bermain, warga yang sedang beraktifitas dan lain - lain. Tanpa peringatan ada monyet ngamuk dan mencakari warga. DAN TANPA BERPERI KEMANUSIAAN (eh berperikehewanan) MANUSIA - MANUSIA ITU MEMUKULI PRIMATA YANG SEDIH DAN KESEPIAN. Di tengah susana yang kacau itu, datanglah petugas konservasi menyelamatkan primata yang dipukuli warga dan diculik pemburu. Akhirnya primata itu bebas pulang ke alamnya.

Kasian kan, kadang kita sebagai manusia suka lupa kalo kita hidup itu ga sendiri. Manusia dengan keserakahannya tega memburu hewan - hewan yang tidak bersalah. Seringkali kita menyalahkan hewan - hewan itu tanpa menyadari kesalahan manusia pada mereka. Ayo lebih peduli dengan tidak memburu dan menjaga habitat mereka.

Eiiits ga cuma itu dong yaaa, pengunjung juga diajak bermain puzzle. Aku sih gaikut, biarkan adek - adek gemas yang bermain dan dapat hadiahnya (bukan karena takut kalah lo ya). Aku jadi orang penting ga penting di belakang. Hwehehe. BTW nih yaaaa, kalian tau ga sih kapan Hari Primata Nasional itu ? Tanggal 31 Januari yaa, kan diatas tanggalnya itu. SALAH!. Coba browsing dulu. tapi kalo ada yang jawab 30 Januari, 100 buat kalian. Hadiah bisa diambil di dealer terdekat yaaa bayar dewe tapi. Pada tanggal 30 Januari 2001 telah ditetapkan menjadi Hari Primata Nasional.

Penontonnya uluuuh, banyak bet. Setelah pertinjukkan dan bermain games waktunya berkeliling Jawa Timur park 2 buat liat kembaran kalian yaituuuu si Owa Jawa *ehhh (becanda, tapi kalo mau miripin diri gapapa). Kalian udah pernah ke Jatim Park 2 ? Please jangan bilang belum yaaa, kalian rugi kalo ga kesini. Tapi kalo belum berkesempatan kesini buruaaan kesini atau mau baca review di blog aku dulu juga gapapa.

Menurut kalian kenapa sih kita harus menyelamatkan Primata ? Komen di kolom yaaah.
Save Primates !!!!

Biasa lah yaa kalo ga ada poto kan kalian gak puas jadi ada sedikit foto buat kalian.

Primatanya sedang bahagia bercengkrama

Kaaaan padet banget penontonnya.

Jangan jahat - jahat pak pemburu

poto sini poto sana, cekrek cekrek

    Kalian pasti pernah denger kisah masjid tiban di kecamatan Turen. Masjid besar nan megah yang tiba - tiba muncul begitu saja. Mungkin ada yang belum sih, gapapa kalian busa search di internet hehe ^^. Aku mau cerita pengalamanku kesana aja.
    Aku udah lama denger tentang masjid ini tapi belum berkesempatan buat berkunjung ke sana. Meskipun udah beberapa kali maen ke rumah temenku di daerah sana. Padahal saudaraku yang dari Lampung udah pernah ke sini hehe. Hari +7 lebaran aku main ke rumah temenku di dampit dan kita berkunjung ke sana. Awalnya, kayak iya kayak ngga, akhirnya ke sana juga. Soalnya emang uadah siang banget jadi panas di jalan. Tadi waktu di rumah Cindy kita membahas berbagai teori yang berkembang di masyarakat tentang masjid tiban ini. Masyarakat sekitar situ memiliki sebutan yang berbeda yakni masjid kyai derup. Konon katanya kyai itulah yang merintis masjid tersebut. Daan katanyaa, bagi orang yang punya kemampuan melihat, masjid itu sebenarnya tidak ada, di situ berupa perkebunan tebu. Disitu kita mengimajinasikan kalo nyasar di kebon tebu gimana, kalau jalan jalan di tebu - tebu gitu.
     Masjidnya gak dipinggir jalan besar, posisinya agak masuk di kawasan penduduk gitu. Buat kalian yang jauh atau dari luar kota sudah banyak penginapan di daerah sini jadi tenang aja. Masuk ke kawasan masjid banyak kios - kios pedagang yang menjual berbagai macam oleh - oleh, mulai dari pakaian, buah, cilok, cinderamata dsb. Kita parkir sepeda motor dulu ya, tempat parkirnya berada di pelataran rumah warga jadi ya masih seadanya. Setelah di kasih karcis kita mulai explore. Eh, dipinggir jalan ada mamang cilok, beli dululah yaa biar ada semangat buat jalan hehe.
     Subhanallah masjidnya besar sekali. Katanyaa, katanya loh ada yang pernah tersesat di masjid ini. Ada yang bilang disembunyikan jinlah. Tapu ya Wallahu alam, kita hanya manusia dengan kemampuan yang terbatas. Masjid ini didominasi warna biru dan putih tapi ada warna lain kok, dan sepertinya juga masih dalam tahap pembangunan. Kalo masuk sendalnya di lepas ya, dan dibawa kalo bisa bawa kantong plastik dari rumah. Meskipun ada yang menjual kantong plastik tapi kalo di rumah ada lebih baik di bawa selain bisa menghemat kita juga mengurangi konsumsi sampah plastik meakipun sedikit, karena hal besar dimulai dari yang kecil. Loh kaan jadi kemana - mana pembahasannya balik ke topik ya.
    Di sini ada beberapa lantai tapi aku lupa karena delay posting yang lama. Tenang aja, kalian ga bakal nyasar karena ada petunjuk arahnya kok. Meskipun belum bisa menjelajahi setiap sudut masjid ini karena keterbatasan waktu tapi cukup seru loh. Di lantai pertama ada aquarium dan banyak ikan hias. Hampir lupa nih, aku kesini sama tiga temenku habibi, cindi dan dewi yang lain.
    Kalo belum kesampaian lihat blue mosque di Turki lihat masjid tiban di Turen aja dulu. Arsitekturnya bagus, penuh perpaduan berbagai kultur budaya. Tapi do'a in biar bisa ke blue mosque (aamiin). Di sini gak hanya masjid tapi juga ada taman hias, pondok, pertokoan, kolam ikan di satu kawasan kayak mall tapi konsep islami gitu. Mungkin yang jualan disini para santriwan dan santriwati. Pengunjung masjid ini juga banyak jadi agak susah kalo mau dapet foto clear background, pasti banyak orang riwa riwi.
    Kita di lewatin salah satu tangga yang sempit cuman pas buat sebadan habibi *eh (hari ini habibi jadi tour guidenya pemirsaah). Tangganya mempunya sudut yang curam mungkin 50/60 derajat yaa. Hampir berdiri guys tangganya, jadi ingat di Bromo (kapan - kapan aku share juga pengalamanku ke Bromo yang super dadakan). Yah namanya orang murah senyum kita naik tangga sambil ketawa bayangin gimana kalo kita udah naik ke atas dan sendal kita jatoh ke bawah. Eh tiba - tiba sendal cindi jatuh dua anak tangga, kita ketawa sambil ngambil dan waktu di pake jatuh lagi sampe ke anak tangga yang paling bawah jadi kita ketawa dulu sampe ga biaa gerak. Dari bawah ada bapak - bapak yang berbaik hati ngambilin sendal itu. Hadeeh bener bener deh.
    Kita istirahat di salah satu atap sambil menikmati angin sepoi-sepoi dan ngeliatin dede - dede gemessh. Bawaannya kalo liat mereka jadi inget duluu. Ulalaaa udah lewat masa remaja huft T.T , but it's okay menjadi dewasa awal cukup menantang kok. Setelah puas dan waktu juga udah sore kita mau pulang. Kasian nih Dewi yang satunya takut kemaleman.
    Di jalan turun sepertinya daerah pondok, disini dibedain yang putra sama putri, jalannya dibedain. Nah, yang jalan bagian perempuan itu kita bertiga dan lampunya udah nyala. Sedangkan di jalan bagian pria lampunya mati dan habibi ga berani lewat situ karena sendirian. Jadi dia ikut kita deh, meskipun gitu jalannya sepi ga ada santri yang lewat.
    Sebelum pulang Cindy ngajak makan cilok ditempat temennya, katanya sih endeus fan lokasinya ga jauh. Bolehlah kita coba, laper juga sih. Ternyata ga sedeket yang aku kira dan ciloknya habis tinggal bakso, yauda terlanjur disana yaa beli aja. Nikmat sekali apalagi kalo dibayari Habibi (pssst blog ini disponsori oleh Cindi dan Habibi)  Eeh di pojokan ada pohon ceri, langsung nyari deh, hmmm dasar lupa umur wkwkwk. Tapi, usia emang bukan batasan kadang buat berlaku sedikit menyimpang dari usia. Kadang kebahagiaan juga ditemukan dari sesuatu yang terlihat remeh dan kecil.
     Waktu udah sore, kita mau pulang. Tapi gaenak gak mampir ke rumah Habibi, jadi aku sama Dewi mampir dulu deh. Di sini dari jam 5 sampe habis maghrib. Gak punya banyak foto sih, tapi ya silakan dinikmati dan jadi referensi wisata religi. Semoga bisa review lebih baik ^^









    Haeee buat yang balik kesini karena nungguin Part II ini release makasi banget ya. Buat yang kesini karena salah klik, semoga kalian salah yang mengasyikkan. Okee, aku lanjutin cerita perjalanan di Surabaya. Jadi, setelah keliling Monumen Nasional rencananya mau makan siang di Pasar Turi, secara di otakku yang namanya pasar pasti banyak makanan. Ternyata Pasar Turi ini diluar ekspektasi sih. Pasarnya udah modern sayangnya sepi, mungkin karena aku kesana udah siang kali ya. Pasar ini udah kayak mall gitu, foodcourt ada di lantai 4 kalo ga salah dan keadaan pasar udah sepi dan liftnya mati pula. Hetdah keburu pingsan ditengah jalan. Tubuh ini butuh asupan makanan karena berjalan seharian. Akhirnya setelah berkeliling ga jelas, nemu juga pintu keluar. Mending aku ke tempat berikutnya aja.
    Setelah pesan grab (rekomendasi temen - temen karena lebih murah), aku nunggu di dekat salah satu pintu keluar. Kalau depan aku itu ada pagar tembok dan dibaliknya ada bangunan sisa kerangka aja, sepertinya bangunan ini bekas terbakar. Aku nunggu disitu dah mirip cicak yang menempel di dinding. Beberapa menit kemudian mas gojeknya nelpon aku. Entah kenapa ya, sinyal di Surabaya ini agak susah. Masnya nelpon dan tanya posisi, ya aku deskripsikan tempatku ya. Kayaknya mas ojol ga oaham sama yang aku maksud. Dia bilang pintu keluar gitu, jadi mungkin pintu keluar Pasar Turi bukan pintu luar gedung. Akhirnya aku jalan cari pintu keluar. Nelangsaa aing, udah panas, laper, capek, masih harus jalan lagi.
    Liat pagar pintu keluar tu kayak liat danau di tengah oase, lega banget. Padahal gatau ini pintu keluar yang mana. Sayangnya pintu ini ditutup dan ga ada yang jaga. Untungnya, untungnya nih tubuhku ga terlalu besar jadi bisa mripit di palang pintu. Nahhh, waktu mripit ada bapak ojol baru parkir di depan, setelah tolah toleh bapak itu ngegas sepeda motornya lagi. Otomatis kan, aku panik dan manggil - manggil tuh bapak ojol, tapi apalah daya sisa tenaga yang cuma 10% ini ga bisa apa apa. Agak jauh dari situ ada bapak bapak yang setelah ngeliat aku berusaha melambai ke ojol itu. Mungkin maksudnya mau menghentikan ojol itu. Tapi bapak ojol terus melajuu, tanpa peduli.
Wagelaseh sakiit hati banget kan yaa, inituh lebih sakit dari liat mantan sama pacar barunya *eh. Aku terdiam di parkiran sambil ngeliatin ojol yang menjauh.
     Di tengah tengah patah hati sambil liatin ojol yang ngejauh, penglihatanku terpusat pada tulisan dijaketnya, GOJEK. Tiba tiba sadar, akukan mesen GRAB bukan GOJEK. Ngakak sendiri tapi malu diliatin orang. Hpku getar nih, wah bahagia mas ojolnya telpon dia tanya "mbak dimana ?" ya aku liat sekeliling dulu sebelum jawab "saya di pinggir jalan mas deket lampu merah" mas ojolnya bilang "lampu merah yang mana mba ?" Dalem hati masnya ini ga tau ya aku pelancong mas, gatau mana mana. Akhirnya aku deskripsikan tempatku berdiri. Setelah percakapan gajelas, mas ojol nyuruh aku nunggu di pos polisi. Okee liat maps ternyata ada pos polisi di depan. Jalan lagi.
     Finally ketemu pos polisi. Wadaaw banyak bapak bapak becak, kan takut kalo kayak di tv tv trus di demo gituu. Jujur aja, aku nunggu sambil gelisah, setiap orang yang lewat pake jaket GRAB selalu tak liatin. Yahh setelah 10 menit ojol pesenanku dateng.Dia bilang maaf karena bikin nunggu dan aku juga bilang maaf karena udah muter muterin.
     Meluncurlah kita ke masjid cheng ho Surabaya. Di sepanjang perjalanan aku sama mas ojol berbagi cerita. Daan ternyata dia itu dek karena baru lulus SMK. Naluri tuirnya langsung keluar hehe. Kita banyak berbincang bincang. Dia nanyain foto profil di w.a ku, katanya kayak di Kediri (*emang foto di Kediri), teruslah dia cerita punya hobi turing dan pingin banget ke titik nol kilometer. Semoga sukses ke nol kilometermu ya dek.
    Tibalah di masjid cheng ho Surabaya. Masjid ini tidak sebesar di Pasuruan tapi arsitekturnya sama kok. Aku sholat duhur disini sambil menunggu temenku dan beristirahat. Ternuata dia masih lama karena ada sesuatu hal dan perut ini sudah lapar. Hmmm, pingin cari kuliner yang recommended tapi bingung dimana. Aku search di internet dan tanya temenku kemudian cek di google map lokasinya ternyata semua cukup jauh. Yaudah nyari aja sekitar sini. Alhamdulillah ketemu bakso di luar lingkungan masjid. Dengan 10.000 bisa dapet semangkok bakso. Cukuo mahal juga ya kalo dibanding di Malang.
     Ga kerasa udah adzan ashar, sholat aja dulu. Temenku juga belum dateng 😂. Setelah sholat dan cek handphone ternyata temenku udah line dan telpon. Dari jauh aku tahu kalo dia nunggu di ujung lapangan. Jadi di depan masjid ini ada lapangannya gitu. Aku samperin dia, karena di duduk menghadap arah sebaliknya jadi tidak tahu kedatanganku. Setelah sesikit melepas rindu, kita meluncur ke Kenpark. Karena temenku tipe yang jarang keluar meskipun kuliah di Surabaya jadi ini pertama kalinya juga dia ke Kenpark. Untung ada google maps jadi kita ga nyasar hehe.
     Sekitar 20 - 30 menitan dari masjid cheng ho Surabaya kita samapai. Setelah membayar tiket masuk sebesar 8000 rupiah kalo ga salah (hehe lupa lupa ingat) di hari weekend. Tempatnya luas banget, ga berasa ada di Surabaya hehe. Kita langsung cari tempat parkir dan ke pagoda yang hitz dan itu. Sayang banget cuacanya mendung mengundang hujan. Saat di sana ga serame yang aku bayangin setidaknya bisa foto - foto. Puas - puasin dulu fotonya. Pagoda ini besar banget aslinya. Yahhh, sayang sekali banyak tangan jahil yang mencoret - coret pagoda ini, andai kita lebih sadar untuk menjaga benda umum. Bagaimana orang lain/ negara lain bisa menghargai kalo kita sendiri tidak bisa menjaga apa yang kita punya. Huftt jadi nyinyir. Setelah puas berfoto kami pingin ke patung dewi quan in dan naga yang hitz itu. Namun, saat berjalan hujan datang, jadi kita neduh dulu. Hujannya lama dan deres jadi kita berbincang aja di gazebo. Malam sudah mulai datang tapi hujan belum reda. Huhu, kayaknya bakal jadi pelajaran kalo backpackeran di musim hujan jangan lupa bawa mantel atau payung.
    Yosssh hujannya agak reda, sebelum bertambah deras kita memutuskan untuk pulang. Tertunda dulu ke patung dewi quan in dan patung naga. Diperjalanan pulang pingin makan lontong balap / lontong kupang tapi temenku ga tau tempat carinya, yauda beli tahu tek - tek aja. Seharga 9000 rupiah, yah sama aja kayak di Malang lah ya, kalo di Malang namanya tahu telur.
    Sebenernya belum terlalu malam sih sampe di kos temenku, tapu karena gatau mau ke mana dan kasian juga dia capek habis ada kegiatan, jadi di kos aja mengumpulkan tenaga buat besok.
    Hari ke duaaaa di Surabaya, oh my ... panas bangetttt ga bisa tidur. Hadeuh tidur berasa joging, keringetan. Sekitar jam 8 / 9 kita out dari kosan buat cari sarapan. Hmmm, sekalian liat kehidupan anak ITS yaa. Kita sarapan di warung makan serba ada gitu lah ya, aku makan nasi sayur lauk dan minum air mineral seharga 8000 rupiah. Mayan lah yaa ternyata hidup di Surabaya. Tempat makannya sih rame. Konon katanya ini adalah tempat makan yang cukup favorit bagi anak ITS. Setelah makan langsung ke hutan bakau. Jalanan lancar dan panas dengan berterima kasih lagi pada google maps yang membantu perjalan ini.
    Ke hutan bakau ini perjalanannya sekitar 30 menitan dari daerah ITS. Meskipun penuh tumbuhan hijau tapi panas. Kita penasaran di mana pantainya. Rada susah mau foto di sini. Rame banget cuyy. Mungkin lagi weekend juga kali ya. Dan panas banget euy. Duh kepala ini berat dan sarapan pagiku berasa mau keluar. Pusing, panas banget pas liat jam, jam 12. Taman bakau ini dilengkapi dengan mushola jadi gausah bingung kalo mau sholat.
     Aku pulang naik kereta siang jam 17.41, tepat pukul 1 kita balik. Rencana selanjutnya pingin ke hutan bambu tapi karena lelah dan yaah, panas banget kita memindah haluan ke Pakuwon Mall, sekalian nyari AC dan ke Hypermart cari makanan buat di kereta. Jam setengah tiga kita pulang ke kosan buat istirahat dan prepare pulang. Jam 17.00 kita berangkat ke stasiun daan hampir hampir ketinggalan kereta wkwkwk.
     Terima kasih surabaya untuk pengalamannya dan terima kasih pembaca yang mau meluangkan waktu untuk membaca cerita ini. See you di next journey yaaa ^^. (Daan akhirnya part 2 selesai)
   Sesi pamer foto di bawah ya hehe.