Tampilkan postingan dengan label Perjalanan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Perjalanan. Tampilkan semua postingan

     Halo temen - temen, makasi ya buat kembali lagi ke sini dan menyimak kisah perjalanan ini. Rencana selanjutnya adalah cari oleh - oleh, nongkrong di Malioboro daaan destinasi terakhir candi Prambanan sebelum pulang. Sebagai sponsor utama perjalanan ini, tidak afdol kalo tidak membuka maps menuju pabrik bakpia pathuk, oleh - oleh khas Jogja yang terkenal. Jarak yang ditempuh lumayan juga temen - temen. Bagi yang ga kuat jalan, mending naik kendaraan umum saja ya hehe. Setelah sedikit tersesat, akhirnya sampai di bakpia pathuk 55. Setelah beli beberapa buat oleh - oleh langsung deh ke destinasi selanjutnya Malioboro (dari sini naik grab ke halte terdekat karena ga kuat jalan lagi).

     Sayang sekali aku lupa nomor bis yang aku tumpangi. Rute Trans Jogja lumayan sulit temen - temen, jadi aku saranin buat cari info sebanyak - banyaknya kalau perlu download rutenya biar ga bingung. Tiba di Malioboro, langit tiba - tiba gelap. Perasaan ini langsung was - was, mana ga bawa payung lagi. Seketika menyesal menolak pemberian payung dari mba Christina tadi. Dalam kondisi ketir - ketir alias ragu dan bimbang, aku cari minum di Indomaret. Setelah ngadem dan duduk merenung mengkalkulasi keputusan apa yang tepat setelah ini. Ada dua pertimbangan, pertama pulang aja mumpung bis terakhir belum lewat dan kedua lanjut ke Candi Prambanan dengan kondisi cuaca yang tidak menentu.

     Akhirnya, dengan berat hati lebih baik pulang untuk menghindari hal - hal yang tidak diinginkan dan berjanji dalam hati kalau ke Jogja lagi harus membawa perlengkapan yang cukup. Semoga di perjalanan ke Jogja selanjutnya bisa menjelajahi Jogja dari sisi yang berbeda.

     Di perjalanan pulang, langit berangsur-angsur menjadi cerah. Wahhh, pingin balik aja rasanya tapi mau gimana lagi. Begitulah kehidupan, yang kita rasa keputusan terbaik mungkin mengecewakan diri. Kita harus belajar meredam ego. Seringkali kehidupan berjalan berlawanan dengan keinginan. Jalan terakhir yang harus dihadapi ya ikhlas. Mau gimana lagi, manusia tidak ada kuasa untuk memutar waktu. Sampai jumpa dicerita yang lain teman - teman.






     Halo temen - temen yang masih penasaran sama ceritaku atau mungkin lagi cari informasi sebanyak - banyaknya buat liburan ke Jogja. Dikarenakan waktu yang sudah sore, aku memutuskan untuk ke Taman Sari dulu. Tiket masuknya 5.000 rupiah dan ada biaya tambahan kalau membawa kamera. Di sini kalian juga bisa menyewa Tour Guide untuk menjelaskan berbagai sudut Taman Sari. Tour Guide akan menemani kalian dari awal perjalanan sampai akhir. Karena sendirian aku memutuskan memakai jasa Tour Guide, namanya pak Budi. Pak Budi yang akan menemani perjalanan kali ini.
     Untuk biaya Tour Guide sampai tulisan ini release 70.000 rupiah. Mungkin bisa berubah lebih tinggi tergantung kapan kalian mengunjungi Jogja. Sebenarnya biaya ini di luar ekspektasi aku sih. Dibeberapa blog yang aku baca, biaya tour guide sebesar 25.000 rupiah, jadi pengeuaran ini hampir tiga kali lipat dari budget yang sudah aku persiapkan. Nah, untuk itulah kalau mau backpackeran bener - bener harus riset mendalam. Tapi gapapa, biaya yang dikeluarkan akan sepadan dengan informasi yang bakal kalian terima.
      Menurut Pak Budi, perbedaan harga yang tinggi itu juga bisa terjadi karena si penulis menyewa tour guide tidak resmi. Tour Guide resmi sudah memiliki sertifikasi dari Dinas Pariwisata Indonesia. Jadi jangan takut dengan informasi yang bakal kalian dapat itu hoax apa bukan. Pak Budi dan tour guide resmi lainnya bakal ngejelasin secara rinci dan detail tentang bangunan Taman sari. Mulai dari gaya arsitektur bangunan sampai makna filosofis yang terkandung di dalamnya. Sedikit informasi buat yang  belum tahu, Taman Sari tidak sekedar pemandian keluarga raja tapi lebih dari itu. Taman Sari penuh dengan nilai luhur toleransi, ajaran agama dan perjuangan.
     Setelah berkeliling Taman Sari dan mengetahui informasi yang luar biasa, kita menyelesaikan tour ini di jam 14.40. Pak Budi juga memberi saran untuk mencoba destinasi wisata baru yang baru di buka yaitu Situs warung boto. Katanya, situs itu dulunya akan dibuat seperti Taman Sari, tapi tidak semegah Taman sari. Setelah solat ashar di masjid sekitar Taman Sari dan makan bakso ditambah es jeruk, perjalanan dilanjutkan ke Situs warung boto. Tapi, sebelumnya aku mampir ke Plengkung Gading dengan berjalan kaki, hmmm lumayan gess di kaki. Perjalanannya sekitar 1 km. 
     Aku pesen Grab di area Plengkung Gading menuju situs Warung Boto. Di sini, kalian cuma bayar parkir aja. Belum ada tiket masuk. Kebanyakan pengunjung masih didominasi pengunjung lokal atau wisatawan lokal. Tempatnya juga tidak sebesar Taman Sari. Jujur aja yaa, waktu di sini moodku langsung ga bagus. Kenapaaaa? Soalnya waktu aku sampai di sini itu semua pengunjung banyak yang berpasangan a.k.a patjaran. Jiwa jombloku meronta - ronta. Ehhh sebenernya ga gitu juga sih, cuman karena diluar ekspektasiku aja. Tempatnya bagus, cuman tidak banyak yang bisa digali dari sini. Selain itu banyak yang menatap aneh pada diriku yang berjalan seorang diri.
     Melihat mendung yang mulai datang dan sayup - sayup terdengar suara gemuruh, aku memilih pulang saja ke penginapan buat istirahat. Dengan jasa ojek online yang dimana - mana ada dan setia menemani perjalanan kali ini kita tuntaskan di penginapan sambil melihat cuaca apakah akan turun hujan atau tidak.
     Setelah istirahat, mandi dan lain sebagainya aku mulai merenung enaknya kemana  malam ini. Menikmati malam di Malioboro atau ke Tempo gelato yang tertunda kunjungannya. Aku memutuskan ke Tempo Gelato Prawirotaman yang tidak jauh dari penginapan dengan berjalan kaki sambil menyusuri perkampungan Kota Jogja.
     Lokasi Tempo Gelato Prawirotaman memang tidak terlalu jauh bisa ditempuh sekitar 15 menit dengan berjalan kaki. Tempatnya bagus dan keren, kalo kata anak milenial sih Instagramable banget. Sebelum memilih varian gelato kita beli dulu cupnya mau yang pake cone atau waffle. Ada 3 size, small, medium dan large. Ukuran small bisa merasakan 2 varian gelato yang berbeda, untuk medium bisa mix 3 rasa dan yang large aku lupa hehe. Di sini aku beli yang medium dengan cup harganya 45.000. Untuk rasa sih tidak mengecewakan dan porsinya juga banyak. Setelah menghabiskan satu porsi aku sempet bingung gimana buang cupnya, apakah di sini self service atau ada petugas yang akan membersihkan (maklum lah yaa pertama kali). Karena kebingungan dan ga ada orang lain jadi aku tanya mba kasirnya, dia bilang tinggal suruh ninggal aja. Pasti mbaknya mbatin (ngomong dalam hati) ini orang dari mana, gini aja ga tau wkwkwk.
     Okee, perjalanan hari pertama kita akhiri di Tempo Gelato, sekarang balik ke penginapan dan istirahat untuk menyusun rencana esok hari. Malam harinya aku habiskan untuk menentukan perjalanan buat besok. Di daftar yang aku buat besok waktunya mengunjungi Candi Prambanan. Tapi, jadwal yang aku susun berantakan dongsss. Akhirnya setelah perenungan yang panjang sampailah pada keputusan untuk mengunjungi Keraton Jogja, Benteng Vredenburg, cari oleh - oleh dan jalan - jalan di Malioboro dan kalo ada waktu ke Candi Prambanan.
     Pagi harinya setelah sarapan dan minum obat (aku orangnya mabuk kendaraan teman - teman), aku pamitan sama penjaganya dan memulai perjalanan ke Kraton Jogja. Hari ini ingin lebih sehat ke haltenya jalan kaki modal google maps walaupun seringkali salah belok. Aku menuju halte Supeno, karena ini halte kecil jadi bayarnya di dalam Trans Jogja. Rute ke Kraton Jogja bisa menggunakan rute 3A, kemudian kita akan diarahkan untuk transit di halte (maaf aku lupa haltenya, pokoknya temen - temen harus rajin - rajin tanya deh). Kemudian kita akan diturunkan di Halte Taman Pintar.
     Dari Halte Taman Pintar, temen - temen bisa jalan kaki atau memanfaatkan jasa tukang becak untuk mengantar kemanapun teman - teman mau. Biasanya mereka menawarkan harga satu paket wisata, gak mahal kok. Tapi aku lebih milih jalan untuk menikmati setiap sudut kota Jogja hehe. Asli buat kalian yang ga kuat jalan mending pake becak daripada capek.
     Di Kraton Jogja cukup ramai dengan pengunjung anak sekolahan. Biaya masuk Kraton Jogja 7000 rupiah ditambah izin foto 2000 rupiah. Di sini juga ada tour guide yang bisa memandu wisatawan. Mereka juga menyarankan untuk mengikuti kegiatan membatik kalau mau. Aku berharap saat kesini ada pertunjukan seni ternyata tidak ada, sedih dong. Meskipun kecewa tapi aku bersyukur bertemu teman baru dalam perjalanan ini.
     Yapp, ketika menjelajah Keraton sendirian aku juga ingin mengambil fotoku kan dan karena sendirian a.k.a solo, aku meminta tolong pada orang lain. Salah satu yang aku mintak tolong ternyata wisatawan asing dari Taiwan namanya Christina. Dia seorang solo backpacker juga. Wihhh senang dong. Akhirnya setelah berbagai perbincangan kita mengelilingi Keraton bersama. Christina bercerita tentang banyak hal, tentang perjalanannya ke berbagai kota di belahan dunia.
     Ini adalah perjalanan mbak Christina di Indonesia dalam rangka liburan. Pertama kali dia mengunjungi blue fire di Ijen dan yang kedua dia ke Jogja. Renacananya dia akan menjelajah bersama temannya tapi dia belum datang. Akhirnya kita memutuskan untuk mengunjungi Benteng Vredenburg berdua. Kami berjalan kaki ke sana dan tiket masuk ke Benteng Vredenburg 10.000 rupiah.
     Saat ini Benteng Vredenburg telah dialihfungsikan menjadi museum perjuanagan. Ada beberapa bangunan dalam Benteng. Setiap ruangan memiliki koleksi tersendiri yang menampilkan rekam jejak sejarah perjuangan kemerdekaan Indonesia. Kita berkeliling benteng sampai siang dan akhirnya memutuskan berpisah. Dia akan kembali ke kosannya dan aku harus melanjutkan perjalanan. Sebelum lanjut perjalanan jangan lupa solat dulu ya teman  teman. Dan sampai jumpa di part selanjutnya untuk cari oleh - oleh dan menyusuri jalan Malioboro bersama.





     Yessss, finally mantai lagi. Setelah sekian purnama debar merindu debur. Seperti di judul, pantai yang dipilih adalah pantai Sine Cemoro Sewu yang ada di kecamatan Kalidawir Kabupaten Tulungagung. Alasan memilih pantai Sine karena lokasinya yang tidak terlalu jauh dari rumah nenekku di Desa Samir, Kecamatan Ngunut. Perjalanan sekitar 40 menit dengan sepeda motor. Buat ke pantai Sine kalian bisa search aja di maps dan disimpan secara offline untuk menghindari sinyal yang tidak stabil. Kondisi jalan ke arah pantai sudah cukup bagus kok. Yahh, kalo di jalan deket pantai masih ada satu dua lubang tapi sudah beraspal semua. Jadi kalian bisa tenang. Kalo rute cukup ekstrim sih, banyak belokan tajam, tanjakan dan turunan yang ekstrim juga. Bahagianya, mobil bisa akses kesini juga. Yang mau liburan dengan keluarga bisanih ambil pantai ini sebagai opsi.
     Aku berangkatnya pagi hari ya, sekitar pukul 07.05 lah, jalanan masih sepi dan waktu tiba di pantai juga masih sepi (masi enak buat cari wangsit :p). Buat masuk ke pantai ini kalian cukup merogoh kocek untuk parkir sepeda motor Rp. 3.000, tiket untuk 1 orang Rp. 7.500 dan tiket untuk mobil seharga Rp. 5.000. Kalian bebas bisa explore pantai dan kampung nelayan di sini. Pintu gerbang masuknya ga langsung di depan pantai ya. Jadi kalian masih harus berkendara beberapa meter untuk sampai di lokasi. Di sini juga ada TPI (Tempat Pelelangan Ikan) jadi buat yang mau nyari oleh - oleh bisa beli disini tapi ga beroperasi 24 jam yah. Waktu aku berkunjung kesana TPInya ga buka. Tapi kalian bisa beli di kampung nelayan.
    Menikmati silir angin dan ombak yang berdebur dengan kesunyian riuh manusia memang cocok buat relaksasi dari kepenatan hiruk pikuk di kota. Di sini juga ga ada sinyal, cocok buat ngilang. Etapi mungkin juga tergantung provider kalo im3 jelas ga ada sinyal. Pantai Sine termasuk dalam pantai yang memiliki ombak besar, lebih baik kalian jangan berenang disini. Kalau berjalan - jalan di pinggirnya sih masih okelah.
    Di Pantai Sine kalian juga bisa menemukan cemoro sewu, kawasan hutan cemara dipinggir pantai dan danau cinta (buat yang pengen berenang bisa di sini aja). Selain itu di Pantai Sine juga disediakan fasilitas yang cukup banyak seperti persewaan ATV, toilet dengan air tawar, musola, rest area dan beberapa kios juga memberikan fasilitas free wifi. Kalian juga bisa ngecamp disini lo. Dan yang paling penting tong sampah. Sayang banget kan pantai yang indah harus tercemar sampah. Yah meskipun ketika laut pasang mbawa sampah tapi setidaknya kita tidak boleh menambah sampah yang sudah berserakan. Ingat teman, sampah plastik tidak mudah terurai dan bisa membahayakan biota laut. Jadi, jangan lupa buang sampah pada tempatnya.
    Kalian jangan khawatir dengan dompet kalian. Harga disini cukup murah kok. Kalo kalian mau kencing cukup mengeluarkan uang Rp. 2.000 dan Rp. 3.000 untuk mandi dengan air tawar. Harga menu juga masih cukup terjangkau untuk mie goreng rata - rata dijual seharga Rp. 5.000, bakso seharga Rp. 6.000 sama dengan harga pecel dan nasi ayam lalapan Rp. 10.000. Eh ada yang kurang kalian juga bisa menikmati seporsi cumi dengan merogoh kocek sebesar Rp. 25.000.
    Beberapa tips buat yang mau liburan ke pantai dengan tenang :
1. Pilih hari weekday kalo bisa karena lagi sepi dan sebisa mungkin berangkat pagi hari.
2. Jangan lupa sarapan dan bawa tumblr/botol minum dari rumah.
3. Charge full kamera dan handphone kalian.
4. Pakai sunblock.
5. Cek kondisi kendaraan kalian, pastikan dalam kondisi prima ya.
6. Jangan buang sampah sembarangan.
7. Yang paling penting Do'a

Semoga liburan kalian menyenangkan temann.

Ga afdol tanpa poto kaan.

















    Ada yang belum tau Jawa Timur Park 3 ? Mana mana angkat tangannya tapi jangan tinggi tinggi ya. Udah tau yaudah kalo udah tau. Lagian siapa sih yang ga tau Jawa Timur Park 3. Kalau belum tau googling dulu :v. Buat kalian yang belum tahu Jawa Timur Park 3, itu adalah salag saty theme park di kota Batu. Jawa Timur Park 3 merupakan salah satu bagian dari Jawa Timur Park Group. Beda dari theme park yang lain, di JTP 3 ada 4 park utama yaitu Dino Park, The Legend Star, Museum Musik Dunia dan Funtech Plaza. Eiiitss tapi ada banyak lagi atraksi di sini seperti circus magic, the miracle, jurassic action, infinite world, house of zombie, 6D Cinema, Terminal Selfie, Virtual Arena, XD dan 360 photo. Banyak banget kan. Kalian kalo kesini siap siap bawa batre kamera tambahan atau power bank ya karena banyak spot yang super keren buat dilewatin.
    JTP 3 lokasinya ga jauh dari jalan utama kok jadi gampang banget di cari. Kalo kalian dari arah malang kalian bisa ke arah Batu. Tempatnya ada di kiri jalan deket Ria Djenaka. Kalo dari arah sebaliknya tujuan kalian ada di kanan jalan. Aku sarankan kalian bawa kendaraan sendiri atau sewa harian.
    Di JTP 3 kalian bisa beli tiket perwahana atau gabungan. Nanti aku sisipin harganya di foto bawah. Tapi harga ini juga bisa berubah lo. Apalagi kalian bacanya beberapa tahun setelah blog ini di tulis. Meskipun gitu setidaknya bisa kalian jadikan acuan lah ya kalo mau liburan ke JTP 3. Apalagi kalian dari luar kota. Harga tiketnya juga beda antara weekday atau weekend. Pokoknya ada nanti fotonya.
    Jam bukanya tiap park juga ga sama sih, waktu aku ke sana the Legend Star belum buka. Tapi yang pasti JTP 3 beroperasi dari jam 11.00 - 21.00. Di sini juga ada Indomaret loh, jadi gausa bingung kalo mendadak kuota habis.


 
    Pernah ga sih kalian ngebayangin keliling dunia. Pernah lah ya, kalo belum bayangin dulu ya. Udah kan udah ? Jadi ini sesuai judul 3 hari keliling pulau Jawa, tapi semoga nantinya keliling Dunia. Semua bilang Aamiin. Hehe.
   Jadi keliling Jawa ini meskipun bukan dari ujung ke ujung tapi ya tetep dari Jawa Timu ke Jakart balik lagi Jawa Timur sama aja keliling kan yah. Rute sebenarnya sih Malang - Tulungagung - Bogor - Jakarta - Malang. Pulangnya via pantura ya, naik kereta tapi. Kendaraan yang digunakan bis dan kereta. Moda angkutan rakyat lah pokoknya. Dan gak pas 3 hari sih, 3,5 harian lah.
   Pertama tama aku naik kereta dari Malang - Ngunut, karena berangkatnya aku nganter nenekku sih dan dari Tulungagung aku sama nenek naik bis Harapan Jaya. Mungkin kalo kalian daerah Jawa Timur ga asing dengan bis warna putih oranye (bukan bagong) beda yaa, Harapan Jaya. Enaknya naik bis ini kita free bantal dan selimut. Eh lupa tentunya makanan ringan dan makan berat sekali. Mayan kan bisa hemat buat uang jajan. Sayangnya karena sesuatu bis kita telat. Berangkatnya baru pukul setengah satu siang lah dan nyampe Bogor pagi menjelang siang. Di Bogor nginep sehari semalem lah terus cauuu ke Pasar Senen naik bis. 
    Yah tapi namanya hidup memang ga seindah yang dibayangkan. Keretaku ke Malang dari Pasar Senen itu jam 12.00 siang. Dari Bogor ke Pasar Senen butuh waktu kaaan. Dan timbulah sedikit drama dramaan di sini. Niatnya berangkat pagi meet up sama temen di Jakarta, kemudian pulang dengan bahagia. Runtuh sudah, keponakanku datang telat, bis ngetemnya lama. Di jalan udah berdoa aja ga ketinggalan kereta 🙄. Kereta jam 12.00 sampe depan satsiun jam 12.00 alhasil harus lari lari deh. Pas melangkah ke dalem gerbong keretanya mau berangkat. Alhamdulillah, coba telat selangkah doang udah babay keretaa, babay uang *eh. Yah begitulah kehidupan beda langkah aja bisa merubah segalanya. Jadi beranikan melangkah (Dewi Teguh).
    Daan sekarang pulang. Banyak sekali pelajar dari perjalan ini, dari harus bersabar menunggu bis, latihan mengontrol emosi karena hampir ketinggalan kereta dan membuat keputusan. Kenapa membuat keputusan karena coba aja kalo aku segera pesan bantal dinkereta pasti bisa bobo nyaman. Karena kelamaan menimbang dan memilih serta memutuskan bantal sewaan di kereta sudah habis. FYI, aku juga baru tau kalo di kereta itu ga free bantal, beda ya kayak di bis padahal harganya mahal kereta. Dan yang tidak boleh lupa lagi persiapan. Kenapa karena aku lupa membawa jaket. Fix, semaleman kedinginan. Lupa nih ngasih tau, aku naik kereta apa. Aku sedikit lupa si naik kereta apa, kalo ga Jayabaya ya Majapahit. Dan perjalanan ini dilakukan tahun 2017 awal.

    Biaya perjalanan:
1. Tiket kereta Malang - Ngunut.                           Rp.   12.000
2. Tiket bis Harapan Jaya Ngunut - Bogor.          Rp. 215.000
3. Harga bis Bogor - Jakarta (gratis karena dibayarin, tapi perorang Rp. 20.000)
4. Tiket kereta Jakarta - Malang.                           Rp. 245.000
5. Makan nasi goreng di kereta + teh                   Rp.   27.000
6. Makanan ringan.                                                   Rp.  10.000
 Total.           Rp. 509.000
*Ps. Aku sedikit lupa harga nasi goreng dan teh sekitar segitu lah.                           
    
wohooooo, kejam gak tuhhh !
Jadi kronologinya gini.
Pagi hari tanggal 31 Januari 2019 jam 10.00 WIBB (Waktu Indonesia Bagian Batu) banyak orang berkerumun di depan entrance. Penasaran kan ya ada apaan. Ternyata ada drama teatrikal yang depersembahkan oleh Jawa Timur Park 2 untuk menyambut Hari Primata Nasional.

Drama teatrikal ini menceritakan tentang 2 primata yang hidup bahagia di alamnya (bukan alam ghoib lo) diiringi musik yang riang. Tiba - tiba musik menjadi lebih kencang dan mendebarkan. Dari sela - sela pengunjung yang rapat kek pager daun, muncul mengendap - endap pemburu jahat yang menagkap salah satu primata tersebut. Mereka dengan alat perburuannya yang ganas - ganas itu membawa primata menjauh. Yaaaah, primata yang satunya jadi sedih dong. Lagu juga berubah menjadi lebih sedih, aku juga ikut sedih pengen nangis rasanya (lebay tapi fakta). Primata yang sendirian itu pasti kesepian dan merasa sedih lalu pergi entah kemana. Kemudian  panggung berubah menjadi pemukiman warga yang tenang dan bahagia. Anak - anak sedang asik bermain, warga yang sedang beraktifitas dan lain - lain. Tanpa peringatan ada monyet ngamuk dan mencakari warga. DAN TANPA BERPERI KEMANUSIAAN (eh berperikehewanan) MANUSIA - MANUSIA ITU MEMUKULI PRIMATA YANG SEDIH DAN KESEPIAN. Di tengah susana yang kacau itu, datanglah petugas konservasi menyelamatkan primata yang dipukuli warga dan diculik pemburu. Akhirnya primata itu bebas pulang ke alamnya.

Kasian kan, kadang kita sebagai manusia suka lupa kalo kita hidup itu ga sendiri. Manusia dengan keserakahannya tega memburu hewan - hewan yang tidak bersalah. Seringkali kita menyalahkan hewan - hewan itu tanpa menyadari kesalahan manusia pada mereka. Ayo lebih peduli dengan tidak memburu dan menjaga habitat mereka.

Eiiits ga cuma itu dong yaaa, pengunjung juga diajak bermain puzzle. Aku sih gaikut, biarkan adek - adek gemas yang bermain dan dapat hadiahnya (bukan karena takut kalah lo ya). Aku jadi orang penting ga penting di belakang. Hwehehe. BTW nih yaaaa, kalian tau ga sih kapan Hari Primata Nasional itu ? Tanggal 31 Januari yaa, kan diatas tanggalnya itu. SALAH!. Coba browsing dulu. tapi kalo ada yang jawab 30 Januari, 100 buat kalian. Hadiah bisa diambil di dealer terdekat yaaa bayar dewe tapi. Pada tanggal 30 Januari 2001 telah ditetapkan menjadi Hari Primata Nasional.

Penontonnya uluuuh, banyak bet. Setelah pertinjukkan dan bermain games waktunya berkeliling Jawa Timur park 2 buat liat kembaran kalian yaituuuu si Owa Jawa *ehhh (becanda, tapi kalo mau miripin diri gapapa). Kalian udah pernah ke Jatim Park 2 ? Please jangan bilang belum yaaa, kalian rugi kalo ga kesini. Tapi kalo belum berkesempatan kesini buruaaan kesini atau mau baca review di blog aku dulu juga gapapa.

Menurut kalian kenapa sih kita harus menyelamatkan Primata ? Komen di kolom yaaah.
Save Primates !!!!

Biasa lah yaa kalo ga ada poto kan kalian gak puas jadi ada sedikit foto buat kalian.

Primatanya sedang bahagia bercengkrama

Kaaaan padet banget penontonnya.

Jangan jahat - jahat pak pemburu

poto sini poto sana, cekrek cekrek

    Kalian pasti pernah denger kisah masjid tiban di kecamatan Turen. Masjid besar nan megah yang tiba - tiba muncul begitu saja. Mungkin ada yang belum sih, gapapa kalian busa search di internet hehe ^^. Aku mau cerita pengalamanku kesana aja.
    Aku udah lama denger tentang masjid ini tapi belum berkesempatan buat berkunjung ke sana. Meskipun udah beberapa kali maen ke rumah temenku di daerah sana. Padahal saudaraku yang dari Lampung udah pernah ke sini hehe. Hari +7 lebaran aku main ke rumah temenku di dampit dan kita berkunjung ke sana. Awalnya, kayak iya kayak ngga, akhirnya ke sana juga. Soalnya emang uadah siang banget jadi panas di jalan. Tadi waktu di rumah Cindy kita membahas berbagai teori yang berkembang di masyarakat tentang masjid tiban ini. Masyarakat sekitar situ memiliki sebutan yang berbeda yakni masjid kyai derup. Konon katanya kyai itulah yang merintis masjid tersebut. Daan katanyaa, bagi orang yang punya kemampuan melihat, masjid itu sebenarnya tidak ada, di situ berupa perkebunan tebu. Disitu kita mengimajinasikan kalo nyasar di kebon tebu gimana, kalau jalan jalan di tebu - tebu gitu.
     Masjidnya gak dipinggir jalan besar, posisinya agak masuk di kawasan penduduk gitu. Buat kalian yang jauh atau dari luar kota sudah banyak penginapan di daerah sini jadi tenang aja. Masuk ke kawasan masjid banyak kios - kios pedagang yang menjual berbagai macam oleh - oleh, mulai dari pakaian, buah, cilok, cinderamata dsb. Kita parkir sepeda motor dulu ya, tempat parkirnya berada di pelataran rumah warga jadi ya masih seadanya. Setelah di kasih karcis kita mulai explore. Eh, dipinggir jalan ada mamang cilok, beli dululah yaa biar ada semangat buat jalan hehe.
     Subhanallah masjidnya besar sekali. Katanyaa, katanya loh ada yang pernah tersesat di masjid ini. Ada yang bilang disembunyikan jinlah. Tapu ya Wallahu alam, kita hanya manusia dengan kemampuan yang terbatas. Masjid ini didominasi warna biru dan putih tapi ada warna lain kok, dan sepertinya juga masih dalam tahap pembangunan. Kalo masuk sendalnya di lepas ya, dan dibawa kalo bisa bawa kantong plastik dari rumah. Meskipun ada yang menjual kantong plastik tapi kalo di rumah ada lebih baik di bawa selain bisa menghemat kita juga mengurangi konsumsi sampah plastik meakipun sedikit, karena hal besar dimulai dari yang kecil. Loh kaan jadi kemana - mana pembahasannya balik ke topik ya.
    Di sini ada beberapa lantai tapi aku lupa karena delay posting yang lama. Tenang aja, kalian ga bakal nyasar karena ada petunjuk arahnya kok. Meskipun belum bisa menjelajahi setiap sudut masjid ini karena keterbatasan waktu tapi cukup seru loh. Di lantai pertama ada aquarium dan banyak ikan hias. Hampir lupa nih, aku kesini sama tiga temenku habibi, cindi dan dewi yang lain.
    Kalo belum kesampaian lihat blue mosque di Turki lihat masjid tiban di Turen aja dulu. Arsitekturnya bagus, penuh perpaduan berbagai kultur budaya. Tapi do'a in biar bisa ke blue mosque (aamiin). Di sini gak hanya masjid tapi juga ada taman hias, pondok, pertokoan, kolam ikan di satu kawasan kayak mall tapi konsep islami gitu. Mungkin yang jualan disini para santriwan dan santriwati. Pengunjung masjid ini juga banyak jadi agak susah kalo mau dapet foto clear background, pasti banyak orang riwa riwi.
    Kita di lewatin salah satu tangga yang sempit cuman pas buat sebadan habibi *eh (hari ini habibi jadi tour guidenya pemirsaah). Tangganya mempunya sudut yang curam mungkin 50/60 derajat yaa. Hampir berdiri guys tangganya, jadi ingat di Bromo (kapan - kapan aku share juga pengalamanku ke Bromo yang super dadakan). Yah namanya orang murah senyum kita naik tangga sambil ketawa bayangin gimana kalo kita udah naik ke atas dan sendal kita jatoh ke bawah. Eh tiba - tiba sendal cindi jatuh dua anak tangga, kita ketawa sambil ngambil dan waktu di pake jatuh lagi sampe ke anak tangga yang paling bawah jadi kita ketawa dulu sampe ga biaa gerak. Dari bawah ada bapak - bapak yang berbaik hati ngambilin sendal itu. Hadeeh bener bener deh.
    Kita istirahat di salah satu atap sambil menikmati angin sepoi-sepoi dan ngeliatin dede - dede gemessh. Bawaannya kalo liat mereka jadi inget duluu. Ulalaaa udah lewat masa remaja huft T.T , but it's okay menjadi dewasa awal cukup menantang kok. Setelah puas dan waktu juga udah sore kita mau pulang. Kasian nih Dewi yang satunya takut kemaleman.
    Di jalan turun sepertinya daerah pondok, disini dibedain yang putra sama putri, jalannya dibedain. Nah, yang jalan bagian perempuan itu kita bertiga dan lampunya udah nyala. Sedangkan di jalan bagian pria lampunya mati dan habibi ga berani lewat situ karena sendirian. Jadi dia ikut kita deh, meskipun gitu jalannya sepi ga ada santri yang lewat.
    Sebelum pulang Cindy ngajak makan cilok ditempat temennya, katanya sih endeus fan lokasinya ga jauh. Bolehlah kita coba, laper juga sih. Ternyata ga sedeket yang aku kira dan ciloknya habis tinggal bakso, yauda terlanjur disana yaa beli aja. Nikmat sekali apalagi kalo dibayari Habibi (pssst blog ini disponsori oleh Cindi dan Habibi)  Eeh di pojokan ada pohon ceri, langsung nyari deh, hmmm dasar lupa umur wkwkwk. Tapi, usia emang bukan batasan kadang buat berlaku sedikit menyimpang dari usia. Kadang kebahagiaan juga ditemukan dari sesuatu yang terlihat remeh dan kecil.
     Waktu udah sore, kita mau pulang. Tapi gaenak gak mampir ke rumah Habibi, jadi aku sama Dewi mampir dulu deh. Di sini dari jam 5 sampe habis maghrib. Gak punya banyak foto sih, tapi ya silakan dinikmati dan jadi referensi wisata religi. Semoga bisa review lebih baik ^^









    Haeee buat yang balik kesini karena nungguin Part II ini release makasi banget ya. Buat yang kesini karena salah klik, semoga kalian salah yang mengasyikkan. Okee, aku lanjutin cerita perjalanan di Surabaya. Jadi, setelah keliling Monumen Nasional rencananya mau makan siang di Pasar Turi, secara di otakku yang namanya pasar pasti banyak makanan. Ternyata Pasar Turi ini diluar ekspektasi sih. Pasarnya udah modern sayangnya sepi, mungkin karena aku kesana udah siang kali ya. Pasar ini udah kayak mall gitu, foodcourt ada di lantai 4 kalo ga salah dan keadaan pasar udah sepi dan liftnya mati pula. Hetdah keburu pingsan ditengah jalan. Tubuh ini butuh asupan makanan karena berjalan seharian. Akhirnya setelah berkeliling ga jelas, nemu juga pintu keluar. Mending aku ke tempat berikutnya aja.
    Setelah pesan grab (rekomendasi temen - temen karena lebih murah), aku nunggu di dekat salah satu pintu keluar. Kalau depan aku itu ada pagar tembok dan dibaliknya ada bangunan sisa kerangka aja, sepertinya bangunan ini bekas terbakar. Aku nunggu disitu dah mirip cicak yang menempel di dinding. Beberapa menit kemudian mas gojeknya nelpon aku. Entah kenapa ya, sinyal di Surabaya ini agak susah. Masnya nelpon dan tanya posisi, ya aku deskripsikan tempatku ya. Kayaknya mas ojol ga oaham sama yang aku maksud. Dia bilang pintu keluar gitu, jadi mungkin pintu keluar Pasar Turi bukan pintu luar gedung. Akhirnya aku jalan cari pintu keluar. Nelangsaa aing, udah panas, laper, capek, masih harus jalan lagi.
    Liat pagar pintu keluar tu kayak liat danau di tengah oase, lega banget. Padahal gatau ini pintu keluar yang mana. Sayangnya pintu ini ditutup dan ga ada yang jaga. Untungnya, untungnya nih tubuhku ga terlalu besar jadi bisa mripit di palang pintu. Nahhh, waktu mripit ada bapak ojol baru parkir di depan, setelah tolah toleh bapak itu ngegas sepeda motornya lagi. Otomatis kan, aku panik dan manggil - manggil tuh bapak ojol, tapi apalah daya sisa tenaga yang cuma 10% ini ga bisa apa apa. Agak jauh dari situ ada bapak bapak yang setelah ngeliat aku berusaha melambai ke ojol itu. Mungkin maksudnya mau menghentikan ojol itu. Tapi bapak ojol terus melajuu, tanpa peduli.
Wagelaseh sakiit hati banget kan yaa, inituh lebih sakit dari liat mantan sama pacar barunya *eh. Aku terdiam di parkiran sambil ngeliatin ojol yang menjauh.
     Di tengah tengah patah hati sambil liatin ojol yang ngejauh, penglihatanku terpusat pada tulisan dijaketnya, GOJEK. Tiba tiba sadar, akukan mesen GRAB bukan GOJEK. Ngakak sendiri tapi malu diliatin orang. Hpku getar nih, wah bahagia mas ojolnya telpon dia tanya "mbak dimana ?" ya aku liat sekeliling dulu sebelum jawab "saya di pinggir jalan mas deket lampu merah" mas ojolnya bilang "lampu merah yang mana mba ?" Dalem hati masnya ini ga tau ya aku pelancong mas, gatau mana mana. Akhirnya aku deskripsikan tempatku berdiri. Setelah percakapan gajelas, mas ojol nyuruh aku nunggu di pos polisi. Okee liat maps ternyata ada pos polisi di depan. Jalan lagi.
     Finally ketemu pos polisi. Wadaaw banyak bapak bapak becak, kan takut kalo kayak di tv tv trus di demo gituu. Jujur aja, aku nunggu sambil gelisah, setiap orang yang lewat pake jaket GRAB selalu tak liatin. Yahh setelah 10 menit ojol pesenanku dateng.Dia bilang maaf karena bikin nunggu dan aku juga bilang maaf karena udah muter muterin.
     Meluncurlah kita ke masjid cheng ho Surabaya. Di sepanjang perjalanan aku sama mas ojol berbagi cerita. Daan ternyata dia itu dek karena baru lulus SMK. Naluri tuirnya langsung keluar hehe. Kita banyak berbincang bincang. Dia nanyain foto profil di w.a ku, katanya kayak di Kediri (*emang foto di Kediri), teruslah dia cerita punya hobi turing dan pingin banget ke titik nol kilometer. Semoga sukses ke nol kilometermu ya dek.
    Tibalah di masjid cheng ho Surabaya. Masjid ini tidak sebesar di Pasuruan tapi arsitekturnya sama kok. Aku sholat duhur disini sambil menunggu temenku dan beristirahat. Ternuata dia masih lama karena ada sesuatu hal dan perut ini sudah lapar. Hmmm, pingin cari kuliner yang recommended tapi bingung dimana. Aku search di internet dan tanya temenku kemudian cek di google map lokasinya ternyata semua cukup jauh. Yaudah nyari aja sekitar sini. Alhamdulillah ketemu bakso di luar lingkungan masjid. Dengan 10.000 bisa dapet semangkok bakso. Cukuo mahal juga ya kalo dibanding di Malang.
     Ga kerasa udah adzan ashar, sholat aja dulu. Temenku juga belum dateng 😂. Setelah sholat dan cek handphone ternyata temenku udah line dan telpon. Dari jauh aku tahu kalo dia nunggu di ujung lapangan. Jadi di depan masjid ini ada lapangannya gitu. Aku samperin dia, karena di duduk menghadap arah sebaliknya jadi tidak tahu kedatanganku. Setelah sesikit melepas rindu, kita meluncur ke Kenpark. Karena temenku tipe yang jarang keluar meskipun kuliah di Surabaya jadi ini pertama kalinya juga dia ke Kenpark. Untung ada google maps jadi kita ga nyasar hehe.
     Sekitar 20 - 30 menitan dari masjid cheng ho Surabaya kita samapai. Setelah membayar tiket masuk sebesar 8000 rupiah kalo ga salah (hehe lupa lupa ingat) di hari weekend. Tempatnya luas banget, ga berasa ada di Surabaya hehe. Kita langsung cari tempat parkir dan ke pagoda yang hitz dan itu. Sayang banget cuacanya mendung mengundang hujan. Saat di sana ga serame yang aku bayangin setidaknya bisa foto - foto. Puas - puasin dulu fotonya. Pagoda ini besar banget aslinya. Yahhh, sayang sekali banyak tangan jahil yang mencoret - coret pagoda ini, andai kita lebih sadar untuk menjaga benda umum. Bagaimana orang lain/ negara lain bisa menghargai kalo kita sendiri tidak bisa menjaga apa yang kita punya. Huftt jadi nyinyir. Setelah puas berfoto kami pingin ke patung dewi quan in dan naga yang hitz itu. Namun, saat berjalan hujan datang, jadi kita neduh dulu. Hujannya lama dan deres jadi kita berbincang aja di gazebo. Malam sudah mulai datang tapi hujan belum reda. Huhu, kayaknya bakal jadi pelajaran kalo backpackeran di musim hujan jangan lupa bawa mantel atau payung.
    Yosssh hujannya agak reda, sebelum bertambah deras kita memutuskan untuk pulang. Tertunda dulu ke patung dewi quan in dan patung naga. Diperjalanan pulang pingin makan lontong balap / lontong kupang tapi temenku ga tau tempat carinya, yauda beli tahu tek - tek aja. Seharga 9000 rupiah, yah sama aja kayak di Malang lah ya, kalo di Malang namanya tahu telur.
    Sebenernya belum terlalu malam sih sampe di kos temenku, tapu karena gatau mau ke mana dan kasian juga dia capek habis ada kegiatan, jadi di kos aja mengumpulkan tenaga buat besok.
    Hari ke duaaaa di Surabaya, oh my ... panas bangetttt ga bisa tidur. Hadeuh tidur berasa joging, keringetan. Sekitar jam 8 / 9 kita out dari kosan buat cari sarapan. Hmmm, sekalian liat kehidupan anak ITS yaa. Kita sarapan di warung makan serba ada gitu lah ya, aku makan nasi sayur lauk dan minum air mineral seharga 8000 rupiah. Mayan lah yaa ternyata hidup di Surabaya. Tempat makannya sih rame. Konon katanya ini adalah tempat makan yang cukup favorit bagi anak ITS. Setelah makan langsung ke hutan bakau. Jalanan lancar dan panas dengan berterima kasih lagi pada google maps yang membantu perjalan ini.
    Ke hutan bakau ini perjalanannya sekitar 30 menitan dari daerah ITS. Meskipun penuh tumbuhan hijau tapi panas. Kita penasaran di mana pantainya. Rada susah mau foto di sini. Rame banget cuyy. Mungkin lagi weekend juga kali ya. Dan panas banget euy. Duh kepala ini berat dan sarapan pagiku berasa mau keluar. Pusing, panas banget pas liat jam, jam 12. Taman bakau ini dilengkapi dengan mushola jadi gausah bingung kalo mau sholat.
     Aku pulang naik kereta siang jam 17.41, tepat pukul 1 kita balik. Rencana selanjutnya pingin ke hutan bambu tapi karena lelah dan yaah, panas banget kita memindah haluan ke Pakuwon Mall, sekalian nyari AC dan ke Hypermart cari makanan buat di kereta. Jam setengah tiga kita pulang ke kosan buat istirahat dan prepare pulang. Jam 17.00 kita berangkat ke stasiun daan hampir hampir ketinggalan kereta wkwkwk.
     Terima kasih surabaya untuk pengalamannya dan terima kasih pembaca yang mau meluangkan waktu untuk membaca cerita ini. See you di next journey yaaa ^^. (Daan akhirnya part 2 selesai)
   Sesi pamer foto di bawah ya hehe.











    Perjalanan adalah kegiatan bepergian meninggalkan tempat kediaman untuk mengunjungi obyek wisata dan atau bukan obyek wisata dengan menginap di akomodasi komersial, dan atau lebih besar atau sama dengan 24 jam, dan atau jarak perjalanannya lebih besar atau sama dengan 100 km dengan atau tanpa menggunakan alat angkutan, secara perorangan (sendiri) ataupun berkelompok (rombongan). (glosarium)
    Ditanggal 10-11 Maret kemarin, aku telah melakukan sebuah perjalanan. Perjalanan rohani yang sekaligus membuatku berdialog dengan diri sendiri. Mungkin sudah terlalu lama aku tidak mendengarkan aku. Aku terlalu sibuk dengan urusan dan alasan sehingga menghindari aku. Sampai pada akhirnya, aku jatuh pada titik merindukan aku sampai serindu - rindunya. Dan, rindu itu perlu temu, perlu bincang antara aku dan aku. 
    Hetdahhh, prolognya kepanjangan skip aja yak buat yang males baca, wkwkwk. Tapi, cerita dibawah jangan di skip yaaa. Jadi mari kita mulai kisahnya. Ehmmm,,,,,
   Siapa sih yang ga kenal Surabaya, ibukota provinsi Jawa Timur dan kota terbesar di Jawa Timur. Mungkin buat orang luar daerah wajar sih hanya tau melalui internet atau pelajaran - pelajaran di sekolah. Sebagai salah satu penduduk Jawa Timur kok kurang afdol gitu ya belum tau dan jalan - jalan di Surabaya. Rasanya bagaikan sayur tanpa garam, hambar. Akusih bukannya ga pernah hanya saja kalau ke Surabaya cuman lewat doang, kan gaenak menikmati suasana Surabaya dari balik kaca mobil. Akhirnya dihari libur yang mepet, ku agendakan semi solo treveling ke Surabaya.
   Aku berangkat ke Surabaya dari stasiun Malang Kota. Tapi, pesan tiket di stasiun Sumberpucung karena ketika sabtu - minggu selalu terjadi pelonjakan penumpang, jadi kalau gak buru - buru pesan bisa ga dapet tempat duduk dan parahnya ga dapet tiket kereta. Malang - Surabaya ga deket ko, sekitar 3 jam kalau berdiri terus kan lumayan capek, hehe. Sekedar info buat yang belum pernah naik kereta nih, kalau mau memesan tiket bisa dilakukan H-7 sebelum keberangkatan (K.A lokal ni) dan jangan lupa mengisi formulir pemesanan disertai info kartu identitas juga. Bisa berupa KTP, SIM atau KK. Untuk anak kecil bisa pakai KK untuk pemesanan. Kalau gamau pesan, ada tiket go show yang bisa dibeli 2 jam sebelum keberangkatan tanpa isi formulir dan tanpa isi kartu identitas. Tapi kita gatau ketersediaan kursi di kereta. Itusih salah satu kekurangan beli tiket go show.
    Sambil menunggu hari sabtu aku browsing dulu tempat - tempat yang mau aku datengi di Surabaya serta mempelajari rutenya. Aku ga terlalu bisa baca peta soalnya hehe. Setelah buka berbagai situs web, tanya sana sini akhirnya tersusun sudah rute lokasi wisata yang akan dikunjungi. Di hari pertama ada tiga tempat yang ingin aku datengi. Pertama Monumen dan Museum Pahlawan Nasional, kemudian ke masjid Cheng Ho sekalian solat zuhur lalu ke Kenjeran Park sambil menikmati lontong balap. Di hari kedua aku mau ke hutan bambu dan hutan mangrove. Dua destinasi aja sih, soalnya diburu waktu naik kereta lagi, lagian liburan ga boleh terlalu capek. Nanti ga akan maksimal menyambut rutinitas di hari senin.
    Akhirnya, hari yang di tunggu sudah tiba. Hari sabtu dengan kereta penatara jam 07.07 pagi siap meluncur ke Surabaya. Persiapan udah dilakukan dari subuh, mulai dari mandi, sarapan dan lain sebagainya. Do'anya jangan lupa ya supaya perjalanan lancar.
    Kita harus ingat quotes lama manusia merencanakan, Tuhan menentukan. Jadi kita hanya sebatas merencanakan dan berdoa yang terbaik, sisanya adalah kehendak Tuhan. Intinya, pagi - pagi sebelum ke stasiun harus senam jantung dulu. Kenapaaaa ? karena berangkat ke stasiunnya kan dianter temenku dan waktu kita yang cukup mepet dengan kondisi jalan Malang yang seperti itu. Tapi gapapa, aku berusaha santai, ingat Tuhan menentukan. Syukurnya, sampai stasiun itu pukul 07.04 jadi masih ada waktu lah ya buat boarding pass meskipun dengan sedikit berlari kecil sampe temen yang ngaterin buru - buru aku tingga. Maaf Alfaa.
   Sesudah boarding pass kita bisa menuju kereta api, untung di jalur 1 jadi gausa lewat terowongan bawah tanah. Cari tempat duduk sesuai tiket daaaaan mennggu sebentar hehe. Oke, 07.10 kereta berangkat. Surabaya, aku teko. Dan tiba - tiba teringat Alfa, segera kukirim w.a untuk berpamitan dan permintaan maaf serta ucapan terima kasih.
   Perjalanan kita mulai, cukup penuh sih dalam kereta. Sesuai dugaanku wkwkwk. untung beli tiket di awal minggu. Perjalanan ini cukup lama sekitar 2 jam 40 menit. Bosenlah pasti kalo diem aja, kupasang headset dan putar lagu. Musik memang bisa menghilangkan kebosanan di kereta.Tapi, naik kereta ini fungsinya juga bukan buat perjalanan saja jadi kubuka notesku dan mulai mencari - cari imajinasi di sudut - sudut sawah, bangunan, hiruk pikuk manusia, suara suara dan apapun itu.
   Tujuan pertama adalah Monumen Pahlawan Nasional, jadi kita harus turun di Stasiun Kota atau Stasiun Pasar Turi supaya lebih dekat. Dari stasiun kita cukup berjalan kaki ke sana. Stasiun ini merupakan pemberhentian terakhir kereta penataran. Gak khawatir kebablasan deh. Aku cukup suka stasiun ini selain karena luas, bangunannya juga masih mempertahankan arsitektur lama hanya ada perubaha sedikit saja (kayaknya semua stasiun kayak gini deh). Keluar dari stasiun, kita akan disambut bapak bapak becak dan mereka akan menawari harga termurah untuk ke tujuan. Kemarin sih aku ditawari 10.000 ke monumen pahlawan, tapi karena aku mau "jalan - jalan" jadi kutolak secara halus. 
   Keluar dari stasiun juga ada dua pintu gerbang keluar (mulai bingung deh, buka google maps tambah bingung) yang lurus tepat di jalan pintu keluar langsung berhadapan sama jalan raya dan di kiri setelah jalan keluar. Akusih ambil yang di depan mataku aja, alhasil bengong doang sebelah pager sambil liat hp. Mau ke kanan atau ke kiri. Kuhayati lagi google mapsku, masak belum - belum  langsung nyasar. Dan setelah penghayatan tadi, aku harus ke arah kiri stasiun. Tandanya karena ada jembatan di kiri (di google maps ada gambar sungainya). Kumantapkan hati untuk berjalan ke arah kiri.
   First impression sampai di Surabaya, Kota yang ramai, jalannya lebar banget, rapi, tua (karena banyak bangunan tua) dan panas pastinya. Menurut google maps lagi nih aku harus jalan terus dan belok sedikit ke kiri kemudian menemukan perempatan lalu belok kanan lurus lagi. Oke, aku ingat, taruh hp dalam tas dan jalan sambil menikmati suasana Surabaya. 
   Jalan lurus, kemudian belok kiri dan disinilah perempatan besar itu. Ada 4 mbak - mbak yang mau nyebrang kayaknya sih kesusahan karena kendaraan yang lewat. Aku memutuskan untuk ambil jalan sebelum belokan dan nyebrang dari situ untuk memudahkan. Lalu tinggal lurus aja. 4 orang tadi masih menyebrang lurus, sedangkan aku belok kanan. Hmmm, waktu jalan aku baru sadar kalo trotoar Surabaya itu keren. Tapi entah kenapa aku sedikit ada keraguan ya. Kubuka lagi google maps dan ternyata aku salah belok wkwkwk. Sempat mau menyerah dan panggil ojol, tapi masak gini aja nyerah. Kuhayati lagi google mapsnya. Jadi seharusnya di perempatan tadi aku lurus bukan belok. Balik lagi deh. 
   Surabaya mulai terasa panas huhuhu. Ujung tugu pahlawan mulai keliatan berarti tujuan pertama sudah hampir sampai. Dannn jeng - jeng, Monumen Pahlawan di sebelah mata, tinggal cari pintu masuknya. Di trotoar sekitar Monumen Pahlawan ada kursi - kursi buat duduk, mau duduk tapi nanti dulu ajadeh. Di salah satu kursi, ada mbak - mbak yang tadi jalan di depanku, ketika melewati mereka ada yang berbicara "Loh, iku lek kseng mau se" (Loh, itu kan yang tadi). Aku dalam hati "iya mba iya, aku yang salah jalan di belakang mba tadi".
    Perempatan besar lagi, tapi kalo yang ini sudah tau harus kemana, kan tugunya di sebelah mata, tinggal belok kiri sudah sampai di Tugu Pahlawan Nasional. Karena jalan kaki aku ga tau tempat parkirnya. Tapi sepertinya sih disebelah kiri gedung. Untuk tarif parkir kendaraan aku  juga ga tau. Di sepanjang pagar depan yang menutupi tugu, kita akan disambut pahatan - pahatan yang menceritakan tentang perjuang arek - arek Suroboyo melawan penjajah. Di bagian depan ada patung Soekarno - Hatta yang berdiri kokoh. Di sebrang luarnya ada tugu berwarna merah api, aku lupa namanya apa. 
   Masuk ke dalam ada tugu yang tinggi menjulang di seberang lapangan, area ini berbentuk persegi panjang (miniaturnya ada di museum). Area ini dikitari oleh taman. Di taman ini ada patung pahlawan dan gubernur surabaya serta ada kendaraan yang dipakai bung tomo. Taman ini cukup menyejukkan karena banyak pohon - pohon, jadi lebih asik buat duduk - duduk setelah berjalan. Tempatnya juga bersih.
   Setelah cukup istirahat, saatnya ke museum sebelum di tutup. Cukup dengan membayar 5000 rupiah kita bisa menikmati museum. Museum ini terdiri dari dua lantai dan dibagi menjadi 12 zona. Lantai pertama lokasinya ada dibawah. Bentuk museum ini juga unik banget, tingkatnya itu ke bawah. Jadi untuk ke lantai satunya kita akan menuruni tangga. Tangganya juga keren menurutku. Tangga tanpa tangga (nahlo). Di jalan masuk juga ada ukiran besar kondisi perjuangan zaman dulu. Merinding banget liatnya. Untuk kemerdekaan yang kita rasakan sekarang banyak hal yang harus dikorbankan. Di langit - langitnya juga ada piramida terbalik yang ada foto sejarah disetiap sisinya.
    Di sini adalah zona 1, ada kids corner dan ada lorong yang ditempeli foto disepanjang sisinya. Berjalan terus kita ada di ruang luar yang cukup luas, disebelah kanan menempel di dinding terdapat plakat nama tokoh pahlawan nasional. Kalau lorong depan adalah arah jalan keluar, disisi kiri adalah jalan masuk museum. Dipertengahan ada miniatur denah lokasi museum.
    Terpisah dari jalan tadi yang dihubugkan oleh zona 1 adalah bangunan  utama museum. Di museum ini kita akan disambut oleh patung hitam yaitu patung gugur bunga. Di sisi kiri museum ini ada tourish guidenya. Wakti aku ke sini suasananya sedang ramai. Banyak anak seusia SMA sepertinya sedang mengerjakan tugas sejarah dengan membuat video. Selain itu juga banyak pengunjung umum. 
    Di lantai 1 ini mengkisahkan Surabaya di masa proklamasi dan pasca proklamasi. Ada pakaian tentara pada masa itu yang dipamerkan di sini. Selain itu ada radio yang bila ditekan tombolnya akan memperdengarkan pidato bung tomo untuk membakar semangat arek - arek Suroboyo pada masa itu. Di lantai ini juga ada pintu ajaib, bukan pintu Doraemon ya. Pintu ajaib disini adalah pintu menuju ruangan diorama statis.
     Pemutaran diorama statis ini hanya dilakukan di jam jam tertentu. Karena aku datengnya di hari sabtu dan ga tau apa akan diputar atau ngga. Mending tanya ke tourish information-nya. Kata mbaknya yang ada di sana, diorama statis bisa diputar minimal kalau ada 20 orang. Nah karena aku dateng sendirian jadi mbaknya bilang nanti kalau sudah ada 20 orang akan diputarkan. Okelaah, gini amat ya nasib solo traveler. Tapi masih banyak kok tempat lain yang bisa diexplore.
      Saatnya ke lantai dua. 
      Di lantai dua banyak dipamerkan senjata yang digunakan saat masa peperangan. Tidak hanya itu perlengkapan medis dan diorama dinamis masa penjajahan. Waktu lagi asyik-asyiknya menikmati diorami dinamis, dari belakang pundakku ditepuk oleh seseorang dan waktu kutoleh ternyata mbak guide tour tadi. "Mba, daritadi saya cari-cari" kata mbaknya ke aku. "Ada apa mbak ?" (Jeng jeng, nahlo da pa ne). "Itu mbak mau ngasih tau kalau diorama statisnya baru saja diputar. Mbak bisa langsung ke lantai 1" kata mbaknya. Duuuh terharu gakseeh, mbaknya rela muter-muter nyari aku. Langsungdeh aku ke lantai 1 dan tak lupa bilang terimakasih ke mbaknya. 
      Uhuuu, kalau dari suaranya emang udah diputer. Lewat pintu mana (pintunya ada dua). Oke pake perasaan aja aku buka pintu yang tadi aku liat pertama. Daaan, keren banget. Mirip mini bioskop gitu, ada lcdnya juga dan miniatur kota Surabaya. Jadi ada bayangan tank, pesawat, kapal kereen pokoknya. Sayangnya aku nikmatin sambil berdiri, karena dateng terakhir dan gamau ganggu orang. Tapi gapapalah, ga sia sia ke sini. Setelah sepuluh menitan, pertunjukan ini berakhir.
     Waktu keluar aku bilang makasih lagi ke mbaknya. Bener - bener ga nyangka gitu bisa sebaik itu. Akhirnya kita berbincang-bincang sedikit, tak lupa di momen ini minta tolong fotoin ke mbaknya, hehehe. Karena belum selesai menikmati lantai 2, jadi balik lagi ke atas.
      Saat mengamati senjata, tiba - tiba ada 2 orang menghampiri dan bertanya "Mbak boleh minta foto ?" Kata salah satu orang itu. Karena sedikit terkejut aku kira orangnya minta tolong motoin dia, aku jawab iya eh ternyata minta foto bareng. Dengan sedikit heran aku berfoto sama orangnya. Dan temen satunya pun ikutan. Setelah mereka mengucapkan terimakasih dan aku bilang sama sama, aku langsung turun. Ngapain gitu, dikira turis nyasar mungkin, wkwkwk.
    Waktu sudah semakin siang, aku keluar saja dari museum. Sambil berjalan keluar, tiba - tiba aku berfikir bagaimana enaknya zaman kita sekarang. Kita bisa hidup tenang tanpa khawatir musuh menyerang. Tanah ini merdeka diiringi banjir darah, keringat dan air mata. Merdeka ini juga tidak diperoleh dengan waktu yang singkat. Terlalu banyak pengorbanan untuk kemerdekaan yang kita rasakan. Sementara kita, masih terlalu sering merajuk dan mengutuk. Kalau dulu perjuangan dengan mengangkat senjata, sekarang perjuangan dengan mengangkat pena. Duhh jadi melankolis giniii.
     Pas dipintu keluar, jesss langsung terpapar matahari Surabaya di jam 12 siang. Gilaaaaa panas bettt. Gerah banget. Meleleh adeek. Yah, seperti ini sensasinya Surabaya 😂. Duduk dulu, minum dulu, nikmatin gerah dan panasnya Surabaya sebelum melanjutkan perjalanan selanjutnya.
     Cek Google maps dulu, liat rute jalan ke Pasar Turi. Salah satu pasar yang besar di Surabaya. Kalau dari Google maps sih ga jauh dari sekitar sini. Oke sepertinya aku sudah dapat jalannya. Letss goooo....
Mau tau kan gimana serunya keliling Pasar Turi dan muter-muterin ojol di Surabaya. Tungguin next post yaaaa.

   


Keterangan relief
Relief di dinding depan

Monumen Tugu, maap ye case ngelupas di pojokan

Tamannya asik buat ngadem

Ini mobil yang dipake Bung Tomo

Baca itu gaes prasastinya

Ininih museumnya

Denah museum

Tiket masuknya, kalo masuk disobek, jd foto sebelum masuk

Lucu ya jalan masuknya

Wanita juga berjuang kok

Nama nama tokoh pejuang

Miniatur kompleks taman Tugu

Pintu masuk Museum

Baju jaman dulu

Jadwal diorama elektris

Jadi penyambut nih

Wisata sambil edukasi

Mau ditembak yang mana ?

Keren deh museumnya

Kumpulan foto

Ini ceritanya dapur umum

Diorama statis

nampang dikit ya,, kalau ketemu di jalan disapa ya xD

pintu keluar

sampai jumpa pahlawan

Bentuk museumnya anti mainstream kan ?

Yang gratis yang gratis

Tinggi menjulang

Ini yang aku lupa tugu apa

See you pak, semoga kami isa mengemban amanah